Kamis, 20 September 2012

Sejarah Dan Perkembangan Ulumul Qur'an


BAB I
PENDAHULUAN
Al-Qur’an adalah sumber hukum islam yang pertama.sehingga kita hendaknya harus dapat memahami tentang kandungan di dalamnya. Al-Qur’an dengan huruf-hurufnya, bab-babnya, surat-suratnya dan ayat-ayatnya yang sama di seluruh dunia, baik di Jepang, Brasilia, Iraq dan lain-lain. Andaikata ia bukan dari allah Swt, tentu terdapat perbedaan yang banyak.
Al-Qur’an adalah laksana sinar yang memberikan penerangan terhadap kehidupan manusia, bagaikan pelita yang memberikan cahaya kearah hidayah ma’rifah. Al-Qur’an juga adalah kitab hidayah dan ijaz (melemahkan yang lain). Ayat-ayatnya tentu ditetapkan kemudian diperinci dari allah Swt. Yang maha bijaksana dan maha mengetahui.
Oleh karena itu kita sebagai umat islam harus benar-benar mengetahui kandungan-kandungan yang ada didalamnya dari berbagai aspek. Ulumul Qur’an adalah salah satu jalan yang bisa membawa kita dalam memahami kandungan Al-Qur’an.
Selain memahami alqur’an kita juga perlu tau mengetahui bagaimana perkembangan ulumul qur’an dan siapa saja tokoh-tokoh yang menjadi pendongkrak munculnya ulumul qur’an. Secara tidak langsung pemikiran merekalah yang mengilhami kita dalam memaham al-qur’an.



BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pengertian dan sejarah ulumul qur’an
Ungkapan Ulumul Qur’an berasal dari bahasa arab, yaitu Ulum dan Al-Qur’an. Kata Ulum merupakan bentuk jama’ dari kata Ilmu, ilmu yang dimaksud disini sebagaimana didefinisikan Abu Syahbah adalah sejumlah materi pembahasan yang dibatasi kesatuan tema ataupun tujuan. Adapun Al-Qur’an sebagaimana didefinisikan sebagian ulama adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW, yang lafadz-lafadznya mengandung mukjizat, dan ditulis pada mushaf mulai dari awal Surat Al-Fatihah(1) sampai akhir Surat An-Nas(114). Dengan demikian , secara bahasa ulumul qur’an adalah ilmu (pembahasan) yang berkaitan dengan Al Qur’an.[1]
Adapun secara definisi umum Ulumul Qur’an adalah sejumlah pembahasan yang berkaitan dengan Al-Qur’an dan pembahasan itu menyangkut materi-materi yang selanjutnya menjadi pokok-pokok bahasan Ulumul Qur’an.
Mengenai kemunculan istilah ulumul qur’an untuk yang pertama kalinya para penulis menyatakan bahwa Abu Al-Farj Bin Al-Jauzi – lah yang pertama kali memunculkan kata tersebut pada abad ke-6 H. adapun Az-Zarqani menyatakan bahwa istilah itu muncul pada abad 5 H, yang disampaikan oleh Al-Hufi (w. 430 H) dalam karyanya yang berjudul Al-Burhan fi Ulum Al-Qur’an. Dengan merujuk kitab Muqaddimatani Fi Ulum Al-Qur’an yang dicetak tahun 1954 dan disunting oleh Arthur Jeffri, berpendapat bahwa istilah ulumul qur’an muncul dalam kitab Al-Mabani fi Nazhm Al-Ma’ani yang ditulis tahun 425 H.
Kitab hasil cetakannya mencapai 250 halaman itu menyajikan tentang Makki-madani, nuzul al qur’an, kondifikasi al qur’an, penulisan mushaf, penolakan terhadap berbagai keraguan yang menyangkut pengodifikasian al qur’an dan penulisan mushaf, jumlah surat dan ayat, tafsir, takwil, muhkam mutasyabih, turunnya Al-Qur’an dengan Tujuh Huruf (Sab’ah Ahruf) dan pembahasan lainnya. Lebih lanjutnya syahbah mengkritik analisis yang dikeluarkan Az-Zarqani, kritiknya itu menyangkut penyebutan istilah Ulumul Qur’an dalam kitab Al-Burhan Fi Ulumul Qur’an yang pertama kali muncul.  Ia berpendapat bhwa istilah ulumul qur’an sudah muncul sejak abad 3 H. yaitu ketika Ibn Al-Marzuban menullis kitab yang berjudul Al-Hawi Fi Ulum Al-Qur’an.
Banyaknya ilmu yang ada kaitannya dengan pembahasan Al-Qur’an menyebabkan banyak pula pembahasan ruang lingkup Ulumul Qur’an. Ilmu-ilmu Al-Qur’an mencapai 77.450. hitungan itu diperoleh dari hasil perkalian jumlah kalimat Al-Qur’an dengan empat karena tiap-tiap kalimat dalam Al-Qur’an mempunyai empat makna yaitu zhahir, batin, hadd, dan mathla.

  1. Beberapa ruang lingkup pembahasan ulumul qur’an
    1. Persoalan turunnya al-qur’an (nuzul al-qur’an)
    2. Persoalan sanad (rangkaian para periwayat).
    3. Persoalan qira’at ( cara pembacaan al-qur’an)
    4. Persoalan kata-kata al-qur’an.
    5. Persoalan makna-makna al-qur’an yang berkaitan dengan hukum.
    6. Persoalan makna al-qur’an yag berkaitan dengan kata-kata al-quran.[2]
  1. Pokok-Pokok Pembahasan Ulumul Quran
Dari kedua definisi yang telah dikemukakan sebelumnya terlihat ada sebelas macam contoh nama-nama ilmu Quran yang disebutkan, yaitu :
      a. Ilmu Nuzul al-Quran, adalah ilmu yang membahas al-Quran dari segi penurunannya, baik menyangkut proses turunya maupun cara penurunanya. Termasuk di dalamnya ilmu asbab an-nuzul adalah ilmu yang membicarakan tentang latar belakang historis turunnya suatu ayat atau beberapa ayat al-Quran.
            b. Ilmu Tartib al-Quran, adalah ilmu yang membicarakan tentang pengumpulan al-Quran, baik dari segi proses pengumpulanya maupun cara-caranya.
            c. Ilmu Jam’ al-Quran, adalah ilmu yang membahas tentang pengumpulan al-Quran , baik dari segi proses pengumpulannya maupun cara-caranya.
            d. Ilmu Kitabah al-Quran adalah, ilmu yang menceritakan tentang bahsan tata cara penulisan al-Quran.
e. Ilmu Qira’at al-Quran, adalah ilmu yang membicarakan tentang al-Quran dari segi melafalkannya yang dinisabkan pada nama-nama qiraat termasuk didalamnya ilmu tajwid.[3]
f. Ilmu Tafsir al-Quran, adalah ilmu yang membicarakan tentang cara menjelaskan dan menguraikan isi kandungan atau makna ayat-ayat al-Quran. Sedekat mungkin sesuai dengan apa yang dimaksud oleh penuturnya (Allah swt). Namun sebatas kemampuan manusia.
g. Ilmu I’jaz al-Quran, adalah ilmu yang membicarakan tentang keistimewaan al-Quran yang berfungsi sebagai bukti kenabian Muhammd saw.
h. Ilmu an-Nasikh wa al-Mansukh, adalah ilmu yang membicarakan tentang penghapus atau pembatalan hukum yang terkandung dalam suata ayat dan pemberlakuan hukum pada ayat lainya. Hal ini terjadi apabila dua ayat dipandang mengandaung hukum yang kontradiktif.
i. Ilmu Daf’ al-Syubhah, adalah ilmu yang membicarakan tentang cara menolak hujatan yang mencela eksistensi al-Quran, sehingga membuat orang mukmin ragu terhadap kewahyuannya dan otentisitasnya/keasliannya.
j. Ilmu al-Makkiy wa al-Madany, adalah ilmu yang membicarakan tentang klasifikasi ayat-ayat al-Quran berdasarkan tempat turunnya, di Makkah atau di Madainah, dan juga berdasarkan waktu turunnya, sebelum hijrah atau sesudah hijrah.
k. Ilmu al-Muhkam wa al-Mutasyabbih, adalah ilmu yang membicarakan tentang adanya ayat-ayat al-Quran yang jelas dan tagas kandungan maknanya, serta ayat-ayat yang maknanya masih samar, tidak jelas dan menimbulkan multi interpretasi.
      Sebenarnya ulumul quran tidak terpatok pada sebelas ilmu tersebut, masih banyak lagi cabang-cabang ulumul quran yang lain. Bahkan al-Qadhi Abu Bakr ibn al-Arabi dalam kitabnya (Qanun at-Ta’wil) menyebutkan ulumul quran itu memiliki cabang sebanyak 77.450 (tujuh puluh ribu empat ratus lima puluh ribu) ilmu .[4]
  1. Fase perkembangan Ulumul  Qur’an
    1. Fase Sebelum Kodifikasi (Qobl ‘Ashr At-Tadwin)
Pada fase sebelum kodifikasi, ulumul qur’an telah dianggap sebagai benih yang kemunculannya sangat diraqsakan sejak masa Nabi. Hal itu ditandai dengan kegairahan para sahabat untuk mempelajari al-qur’an dengan sungguh-sungguh terlebih lagi diantara mereka sebagaimana diceritakan oleh Abu Abdurrahman As-Sulami, memiliki kebiasaan untuk tidak berpindah kepad ayat lain, sebelum memahami dan mengamalkan ayat yang sedang dipelajarinya.
    1. Fase Kodifikasi
Sebagaimana diketahui pada fase sebelum kodifikasi, ulumul qur’an dan ilmu-ilmu lainnya sebelum dikodifikasikan dalam bentuk kitab atau mushaf, satu-satunya yang sudah dikodofikasikan pada saat itu hanyalah Al-Qur’an. Hal it uterus berlangsung sampai ketika Ali Bin Abi Thalib memerintahkan Abu Al-Aswad untuk menulis nahwu[5]. Perintah Ali inilah yang membuka gerbang pengodifikasian ilmu-ilmu agama dan bahasa arab, pengodifikasisan itu semakin marak dan meluas ketika Islam berada di bawah pemerintahan Bani Umayyah dan Abbasyah pada periode-0periode awal pemerintahannya.

  1. Perkembangan ulumul qur’an
    1. Perkembangan Ulumul Qur’an Abad II H.
Pada masa penyusunan ilmu-ilmu agama yang dimulai sejak permulaan abad II H. pada ulama memberikan prioritas atas penyusunan tafsir sebab sebab tafsir merupakan induk ulumul qur’an. Diantara ulama abad II. Adalah :
-                Syu’bah Bin Hijjaj
-                Sufyan Bin Umayah
-                Sufyan Ats-Tsauri
-                Waqi’ Bin Al-Jarrh
-                Muqotil Bin Sulaiman
-                Ibn Jarir Ath-Thobari
    1. Perkembangan Ulumul Qur’an Abad III H.
Pada abad III selain tafsir dan ilmu tafsir para ulama mulai menyusun beberapa ilmu Al-Qur’an (ulumul qur’an), diantaranya :
-                Ali Bin Al-Madani  Ilmu Asbab An-Nuzul
-                Abu Ubaid Al-Qosimi Bin Salam  Ilmu Nasikh Wa Al-Mansukh, Ilmu Qiraat, Dan Fadha’il Al-Qur’an
-                Muhammad Bin Ayyub Adh-Dhurraits  Makki Wa Al-Madani
-                Muhammad Bin Khalaf Al-Marzuban  Kitab Al-Hawei Fi Ulum Al-Qur’an
    1. Perkembangan Ulumul Qur’an Abad IV H.
Pada abad IV H. Mulai disusun ilmu gharib al-qur’an dan beberapa diantaranya memakai istilah ulumul qur’an, diantara kitabnya adalah ;
-          Gharib Al-Qur’an
-          Aja’ib Ulum Al-Qur’an
-          Al-Mukhtazan Fi Ulum Al-Qur’an
-          Nukat Al-Qur’an Ad-Dallah Ala Bayyan Fi Anwa Al-Qur’an Wa Al-Ahkam Al-Munbi’ah’an Ikhtilaf Al-Anam
-          Al-Astigna’ Fi Ulum Al-Qur’an[6]
    1. Perkembangan Ulumul Qur’an Abad V H.
Pada abad ini mulai disusun ilmu-ilmu I’rab al-qur’an dalam satu kitab. Namun demikian penulisan kitab-kitab ulumul qur’an masih terus dilakukan . ulama masa ini diantaranya :
-          Ali Bin Ibrahim Bin Sa’id Al-Hufi
-          Abu Amr-Dani
    1. Perkembangan Ulumul Qur’an Abad VI H.
Pada abad ini disamping ada ulama yang meneruskan pengembangan ulumul qur’an, juga terdapat ulama yang mulai menyusun ilmu mubhamat al-qu’an diantaranya :
-          Abu Al-Qosim Bin Abdurrahamn As-Suhali  Kitab Mubhamat Al-Qur’an
-          Ibn Al-Jauzi  Funun Al-Afnan Fi Aja’ib Al-Qur’an Dan Kitab Al-Mujtab Fi Ulum Tata’allaq Bi Al-Qur’an[7]
    1. Perkembangan Ulumul Qur’an Abad VII H.
Pada abad VII H ilmu-ilmu Al-qur’an terus berkembang dengan mulai tersusunnya ilmu majaz al-qur’an dan ilmu qira’at. Diantara ulamanya :
-          Alamuddin As-Sakhawi  Hidayat Al-Murtab Fi Mutasyabih
-          Ibn ‘Abd As-Salam / Al Izz  Ilmu Majaz Al-Qur’an
-          Abu Syamah  Al-Mursyid Al-Wajiz Fi Ulum Al-Qur’an Tata’allaq Bi Al-Qur’an Al-Aziz
    1. Perkembangan Ulumul Qur’an Abad VIII H.
Pada abad ini muncullah ulama yang menyusun ilmu-ilmu baru tentang al-qur’an, namun demikian penulisan kitab-kitab tentang ulumul qur’an tetapo berjalan, diantaranya :
-          Ibn Abi Al-Isba’  Ilmu Badu’i Al-Qur’an
-          Ibn Al-Qayyim  Ilmu Aqsam Al-Qur’an
-          Najmuddin Ath-0thufi  Ilmu Hujjaj Al-Qur’an
    1. Perkembangan Ulumul Qur’an Abad IX dan X H.
Pada abad IX dan permulaan abad XH. Makin banyak karya para ulama tentang ulumul qur’an pada masa ini ulumul qur’an mencapai kesempurnaan. Diantara ulamanya antara lain :
-          Jalaludin Al-Bulqini  Mawaqi’ An-Nujum
-          Muhammad Bin Sulaiman Al-Kafiyaji   At-Tafsir Fi Qowa’id At-Tafsir
-          Jalaludin Abdurrahman Bin Kamaluddin As-Suyuti  At-Tahbir Fi Ulum At-Tafsir
Setelah as-suyuti wafat pada tahun 911 H. perkembangan ilmu al-qur’an seolah-olah telah mencapai puncaknya dan berhenti dengan berhentinya para ulama’dalam pengembangan ilmu-ilmu al-qur’an keadaan ini berlanjut sampai abad XIII H.[8]
    1. Pengembangan Ulumul Qur’an Abad Abad Modern.
Sebagaimana penjelasan diatas, bahwa setelah wafatnya imam as-suyuti tahun 911 H, maka terhentilah gerakan penulisan al-qur’an dan pertumbuhannya sampai abad ke-XIV H. sebab pada abad ke-XIV H atau pada abad modern ini bangkit kembali kegiatan penulisan ulumul qur’an dan perkembangan kitab-kitabnya. Hal itu ditengarai dengan banyaknya ulama’ yang mengarang ulumul qur’an dan menuls kitab-kitabnya, baik tafsir maupun macam-macamnya kitab ulumul qur’an.
Diantara para ulama’ yang menulis tafsir/ ulumul qur’an pada abad modern inin adalah sebagai berikut.
-          Ad-Dahlawi  Al-Fauzul Kabir Fi Ushulil Tafsir
-          Thahir Al-Jaziri  At-Tibyan Fi ‘Ulumil Qur’an.
-          Abu Daqiqah  ‘Ulumul Qur’an
-          M. Ali Salamah  Minhajul Furqon Fi ‘Ulumil Qur’an

BAB III
PENUTUP
Ungkapan Ulumul Qur’an berasal dari bahasa arab, yaitu Ulum dan Al-Qur’an. Kata Ulum merupakan bentuk jama’ dari kata Ilmu, Adapun Al-Qur’an sebagaimana didefinisikan sebagian ulama adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW, yang lafadz-lafadznya mengandung mukjizat, dan ditulis pada mushaf mulai dari awal Surat Al-Fatihah(1) sampai akhir Surat An-Nas(114).
Definisi umum Ulumul Qur’an adalah sejumlah pembahasan yang berkaitan dengan Al-Qur’an dan pembahasan itu menyangkut materi-materi yang selanjutnya menjadi pokok-pokok bahasan Ulumul Qur’an.
Banyaknya ilmu yang ada kaitannya dengan pembahasan Al-Qur’an menyebabkan banyak pula pembahasan ruang lingkup ulumul qur’an. Ilmu-ilmu Al-Qur’an mencapai 77.450. Persoalan turunnya al-qur’an (nuzul al-qur’an). Persoalan sanad (rangkaian para periwayat). Persoalan qira’at ( cara pembacaan al-qur’an). Persoalan kata-kata al-qur’an. Persoalan makna-makna al-qur’an yang berkaitan dengan hukum. Persoalan makna al-qur’an yag berkaitan dengan kata-kata al-quran[9].
Pada fase sebelum kodifikasi, ulumul qur’an telah dianggap sebagai benih yang kemunculannya sangat dirasakan sejak masa Nabi. Sebagaimana diketahui pada fase sebelum kodifikasi, ulumul qur’an dan ilmu-ilmu lainnya sebelum dikodifikasikan dalam bentuk kitab atau mushaf, satu-satunya yang sudah dikodofikasikan pada saat itu hanyalah Al-Qur’an.

DAFTAR PUSTAKA

Djalal, Prof. Dr. H. Abdul. H. A, Ulumul Quran, Dunia Ilmu, Surabaya. 2000
Taufiqurrohman, Drs. M. Ag. Studi Ulumul Quran Telaah Atas Mushaf Utsmani, Pustaka Setia. Bandung, 2003
 Rosihan Anwar, M. Ag. Ulumul Quran, Pustaka Setia. Bandung, 2001
Ahmad Syadali, ‘Ulumul Qur’an I, Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 1997

Kadar M. Yusuf, Studi Alquran, (Cet. I, Pekan Baru : Amzah, 2009)



[1] Ahmad Syadali, ‘Ulumul Qur’an I, Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 1997, h.45

[2] Ahmad Syadali, ‘Ulumul Qur’an I, Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 1997, hal. 11
[3] Rosihan Anwar, op.cit. hal. 17-18

[4] Rosihan Anwar, ‘Ulumul Qur’an, Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 2008, hal. 12

[5]  Ibid. hal. 19-25

[6] Taufiqurrohman, Drs. M. Ag. Studi Ulumul Quran Telaah Atas Mushaf Utsmani, Pustaka Setia. Bandung, 2003, h.53
[7]  Ibid. h.79

[8] Djalal, Prof. Dr. H. Abdul. H. A, Ulumul Quran, Dunia Ilmu, Surabaya. 2000,h.84

[9][9] Kadar M. Yusuf, Studi Alquran, (Cet. I, Pekan Baru : Amzah, 2009), hal.9

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar