Jumat, 02 Desember 2011

Filsafat pendidikan Eksistensilisme


BAB I
PENDAHULUAN
George R. Knight (1982:6) mengatakan bahwa filsafat tradisional mempunyai kesamaan mendasar yaitu mengarahkan pemikirannya pada metafisika sebagai isu utama. Lain halnya dengan filsafat modern, ada perubahan yang jelas secara hierarkis mengenai arti penting dari tiga kategori filsafat yang mendasar . Perubahan ini dipicu oleh adanya penemuan sains modern. Beberapa abad lamanya perspektif filsafat dan pengetahuan tentang manusia cenderung stabil. Perubahan dimulai pada abad XVII dan XVIII, dimulai dengan penemuan ilmiah dan teori-teori ilmiah. Kemudian diikuti dengan teknologi yang menyebabkan revolusi industri. Dari sinilah terjadi diskontinuitas dengan pola sosial dan pemikiran filsafat tradisional di dunia Barat. 
Pada zaman modern manusia menolak pandangan tentang kebenaran absolut yang sifatnya statis. Dari sudut pandang manusia, kebenaran merupakan kebenaran manusia yang relatif  dan hal itu berarti tidak ada kepastian universal. Hal inilah yang menyebabkan filsafat modern menolak masalah kenyataan terakhir dan fokus pada  pendekatan relatif mengenai kebenaran dan nilai dari perspektif kelompok (pragmatisme) dan dari sudut pandang individualisme (eksistensialisme). Kalau pragmatisme lebih memfokuskan pada sisi epistemologi sebagai isu utama filsafatnya,  eksistensialisme  memfokuskan diri pada aksiologi. 
Eksistensialisme merupakan filsafat yang bersifat antropologis, karena memusatkan perhatiannya pada otonomi dan kebebasan manusia. Maka, sementara ahli memandang eksistensialisme sebagai salah satu bentuk dari humanisme. Hal ini juga diakui oleh Jean-Paul Sartre, sang filsuf eksistensialis yang sangat terkenal.
Bagaimana eksistensialisme sebagai filsafat mempengaruhi teori dan praksis pendidikan? Inilah pertanyaan penting yang akan dibahas dalam makalah ini, dengan memfokuskan terlebih dahulu pada sifat dasar eksistensialisme, kontribusinya terhadap gerakan   humanisme, kemudian dilanjutkan dengan implikasi eksistensialisme dalam pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pengertian Filsafat pendidikan Eksistensilisme
Kata Eksistensi berasal dari kata Latin yaitu Existere, yang mana Ex artinya keluar sedangkan Sitere artinya membuat berdiri. Artinya apa yang ada, apa yang memiliki aktualitas dan apa saja yang dialami. Kata-kata “eksistensialisme”juga dapat diambil dari kata-kata ”eksistence”  “ada” atau”, wujud”, dan dalam bahasa arab disebut “al-falsafah al-wujudiyah”. [1]
Eksistensialisme adalah salah satu pendatang baru dalam dunia filsafat. Eksistensialisme hampir sepenuhnya merupakan produk abad XX. Dalam banyak hal. eksistensialisme lebih dekat dengan sastra dan seni daripada filsafat formal. Tidak diragukan lagi bahwa eksistensialisme memusatkan perhatiannya pada emosi manusia daripada pikiran.
Eksistensialisme tidak harus dipandang sebagai sebuah aliran filsafat dalam arti yang sama  sebagaimana tradisi filsafat sebelumnya. Eksistensialisme mempunyai  ciri:
  1. penolakan untuk dimasukkan dalam aliran filsafat tertentu;
  2. tidak mengakui adekuasi sistem filsafat dan ajaran keyakinan (agama)
  3. sangat  tidak puas  dengan sistem filsafat tradisional yang bersifat dangkal, akademis dan jauh dari kehidupan.
Individualisme adalah pilar sentral dari eksistensialisme. Kaum eksistensialis tidak mengakui sesuatu itu sebagai bagian dari tujuan alam raya ini. Hanya manusia, yang individual yang mempunyai tujuan.[2]
Eksistensialisme berakar pada karya Soren Kierkegaard (1813-1855) dan Friedrich Nietzsche (1844-1900). Kedua orang ini bereaksi  terhadap  impersonalisme dan formalisme dari ajaran Kristen dan filsafat spekulatif Hegel. Kierkegaard mencoba merevitalisasi ajaran Kristen dari  dalam dengan memberi tempat pada individu dan peran pilihan dan komitmen pribadi. Pada sisi lain, Nietzsche menolak Kekristenan, menyatakan kematian Tuhan dan memperkenalkan ajarannya tentang superman (manusia super).
Eksistensialisme telah berpengaruh  khususnya sejak perang  dunia II. Pencarian kembali akan  makna menjadi penting dalam dunia yang telah menderita depresi berkepanjangan dan diperparah dengan dua perang dunia yang dampaknya ternyata sangat besar. Hal ini kemudian menjadi pemicu bagi kaum eksistensialis memperbaharui pencarian akan makna dan signifikansi sebagai akibat dari adanya dampak sistem industri modern yang mendehumanisasikan manusia. Eksistensialisme merupakan penolakan yang luas terhadap masyarakat yang telah merampas individualitas manusia. Juru bicara eksistensialisme yang berpengaruh pada abad XX termasuk  adalah Karl Jaspers, Gabriel Marcel, Martin Heidegger, Jean Paul Sartre dan Albert Camus.
Sebagai pendatang baru dalam dunia filsafat, eksistensialisme memfokuskan utamanya pada masalah filsafat  dan belum begitu eksplisit terhadap praktik-praktik pendidikan. Beberapa pengecualian ditemukan pada tokoh-tokoh seperti Martin Buber, Maxine Greene, George Kneller dan Van Cleve Morris. Eksistensialisme bukanlah filsafat yang sistematis, tetapi memberi semangat dan sikap yang dapat diterapkan dalam usaha pendidikan.
  1. Beberapa Pemikiran Filsuf Eksistensialis
a. Gabriel Marcel (1889 – 1978)
Marcel adalah filsuf Perancis yang bertitik tolak dari eksistensi. Sudah sejak tahun 1925, sebelum Kierkegaard dan filsuf eksistensialis lain membicarakan eksistensi, Marcel telah menulis artikel yang berjudul Existence et objectivite (Eksistensi dan Objektivitas). Bagi Marcel, eksistensi adalah lawan objektivitas dan tidak pernah dapat dijadikan objektivitas. Eksistensi adalah situasi kongkrit saya sebagai subjek dalam dunia. Misalnya, saya ini warga negara Indonesia, wanita setengah baya, mempunyai watak tertentu, berasal dari golongan sosial tertentu, mendapatkan pendidikan tertentu, dst. Pendeknya, eksistensi adalah seluruh kompleks yang meliputi semua faktor kongkrit – kebanyakan kebetulan – yang menandai hidup saya. [3]
Yang  khas bagi eksistensi adalah saya (sebagai subjek) tidak menyadari situasi saya itu. Artinya, saya tidak menginsyafi apa artinya eksistensi saya itu dalam dunia ini. Baru dalam perjumpaan dan pergaulan dengan orang lain, beberapa manusia akan berhasil lebih jelas menyadari situasi mereka yang sebenarnya. Dalam arti inilah eksistensi berarti lapangan pengalaman langsung, wilayah yang mendahului kesadaran, eksistensi adalah “taraf hidup begitu saja” tanpa direfleksi. Tetapi, supaya hidup saya dalam dunia mencapai arti yang sepenuhnya, perlu saya tinggalkan taraf prasadar itu dan  menuju ke  kesadaran sungguh-sungguh. Dari relasi-relasi yang semula dianggap sebagai nasib saya, saya perlu beralih ke suatu kesadaran yang betul-betul saya terima secara bebas. Dengan kata lain dari eksistensi saya harus menuju ke Ada.[4] 

b.  Jean-Paul Sartre (1905-1980)
Titik tolak filsafat tidak bisa lain, kecuali cogito (kesadaran yang saya miliki tentang diri saya sendiri). Dalam hal ini ia membenarkan pendapat Descartes tentang cogito ergo sum. Tetapi kesadaran itu tidak bersifat tertutup, melainkan intensional (menurut kodratnya terarah pada dunia). Hal ini dirumuskan oleh Sartre demikian: Kesadaran adalah kesadaran diri, tetapi kesadaran akan diri ini tidak sama dengan pengalaman tentang dirinya.  Cogito bukanlah pengenalan dirim melainkan kehadiran kepada dirinya secara non-tematis.  Jadi ada perbedaan antara kesadaran tematis (kesadaran akan sesuatu) dan kesadaran non-tematis (kesadaran akan dirinya). Kesadaran akan dirinya membonceng pada kesadaran akan dunia. Jadi kesadaran atau cogito ini menunjuk pada suatu relasi Ada. Kesadaran adalah kehadirian (pada) dirinya.  Kehadiran (pada) dirinya ini merupakan syarat yang perlu dan mencukupi untuk kesadaran. Kita tidak perlu membutuhkan suatu Subyek Transendental atau Aku Absolut sebagaimana diajarkan idealisme.
Kesadaran tidak dapat disamakan dengan Ada, karena Sartre berpendapat Ada itu transenden (ada begitu saja). Ada yang demikian ini disebutnya Etre-en soi (being in itself), tidak aktif, tidak pasif, tidak afirmatif, tidak negatif, tidak mempunyai masa silam, masa depan maupun tujuan, tidak diciptakan dan tanpa diturunkan dari sesuatu yang lain.
Berbeda halnya dengan etre-pour-soi (being for itself) atau Ada bagi dirinya yang menunjukkan kesadaran. Kalau saya sadar akan sesuatu berarti saya bukan sesuatu itu atau saya tidak sama dengan sesuatu itu. Saya melihat lukisan berarti saya sadar bahwa saya bukan lukisan. Jadi, untuk dapat melihat sesuatu diperlukan syarat mutlak: adanya jarak. Contoh lain, saya sedang mengetik, berarti saya sadar bahwa saya orang yang sedang mengetik, tetapi saya juga sadar bahwa saya tidak identik dengan orang yang mengetik. Artinya, saya bisa berhenti mengetik dan menggantinya dengan berjalan-jalan atau membaca koran. Jadi, negativitas merupakan ciri khas dari etre-pour soi.  Kesadaran berarti distansi dan non-identitas. Kesadaran berarti sama dengan kebebasan.[5]
Dengan kesadaran manusia sanggup mengadakan relasi dengan yang tidak ada. Manusia adalah makhluk yang membawa “ketiadaan”. Aktivitas khusus etre-pour soi adalah “menidak” Ketiadaan tidak terdapat di luar Ada. Ketiadaan terus-menerus menghantui Ada. Ada tidak dapat dilepaskan darinya. Dan adanya etre-pour soi adalah “menidak”, menampilkan ketiadaan itu.[6]

  1. Pengertian pendidikan, ontologi dan eksistesialisme serta hubungannya.

• Pendidikan yaitu bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya. Dalam GBHN 1973, Pendidikan yaitu suatu unsure yang disadari untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia yang dilaksanakan di dalam maupun diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
Menurut Marimba pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju kepribadian yang utama.
 
• Ontology yaitu pemikiran mengenai yang ada dan keberadaannya. Ontology ilmu yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu, bersifat universal; menampilkan semesta universal. Ontology berupaya mencari inti yang termuat pada setiap kenyataan, atau dalam rumusan Loren Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas setiap bentuknya.
• Eksistensialisme yaitu suatu usaha untuk menjadikan masalah menjadi konkret karena adanya manusia dan dunia. Menurut Sartre eksistensialisme yaitu filsafat yang memberi penekanan eksistensi yang mendahului esensi. Memandang segala gejala yang ada berpangkal kepada eksistensi. Dengan adanya eksistensi akan penuh dengan lukisan-lukisan yang konkret dengan metode fenomenologi (cara keberadaan manusia).
Eksistensi sendiri yaitu eks artinya keluar, sintesi artinya berdiri; jadi eksistensi adalah berdiri sebagai diri sendiri. Menurut Heideggard “Das wesen des daseins liegh in seiner Existenz” , da-sein adalah tersusun dari dad an sein. “da” disana. Sein berarti berada. Jadi artinya manusia sadar dengan tempatnya. Menurut Sartre adanya manusia itu bukanlah “etre” melainkan “ a etre” yang artinya manusia itu tidak hanya ada tetapi dia selamanya harus dibentuk tidak henti-hentinya.[7]

         Menurut Parkey (1998) aliran eksistensialisme terbagi menjadi 2, yaitu; bersifat theistic(bertuhan) dan atheistic. Menurut eksistensialisme sendiri ada 3 jenis; tradisional, spekulatif dan skeptif.

        Eksistensialisme sangat berhubungan dengan pendidikan karena pusat pembicaraan eksistensialisme adalah keberadaan manusia sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia.

  1. Ontologi filsafat pendidikan eksistensialisme

        Pemikiran filsafat ekisistensialisme menyebutkan bahwa manusia memiliki keberadaan yang unik dalam dirinya berbeda antara manusia satu dengan manusia lainnya. Dalam hal ini telaah manusia diarahkan pada individualitas manusia sebagai unit analisisnya. Dan berfokus pada pengalaman-pengalaman individu yang diantaranya:

1. berkaitan dengan hal-hal esensial atau  mendasar yang seharusnya manusia tahu dan menyadari sepenuhnya tentang dunia dimana mereka tinggal dan juga bagi kelangsungan hidupnya.
2. menekankan data fakta dengan kurikulum bercorak vokasional.
3. konsentasi studi pada materi-materi dasar tradisional sperti membaca, menulis, sastra, bahasa asing, matematika, sejarah, sains, seni dan musik.
4. pola orientasinya pada skill dasar menuju skill yang bersifat semakin kompleks.
5. perhatian pada pendidikan yang bersifat menarik dan efisien.
6. yakin pada nilaipengetahuan untuk kepentingan pengetahuan itu sendiri.
7. disiplin mental diperlukan untuk mengkaji informasi mendasar tentang dunia yang dialami.[8]
       Secara umum eksistensialisme menekankan pada kreatifitas, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan konkret dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realita. Eksistensialisme lebih memperhatikan pemahaman makna dan tujuan hidup manusia ketimbang melakukan pemahaman terhadap kajian-kajian ilmiah dan metafisika tentang alam semesta. Kebebasan individu sebagai milik manusia adalah sesuatu yang paling utama karena individu memiliki sikap hidup, tujuan hidup dan cara hidup sendiri. Jadi, filsafat pendidikan eksistensialisme yaitu filsafat yang memberikan kebebasan kepada setiap individu untuk mendapatkan pendidikan secara otentik yang artinya setiap manusia mempunyai tanggungjawab dan kesadaran diri untuk mereka sendiri.
  1. Posisi Filsafat Pendidikan Eksistensi
  1. Realitas
        Menurut eksistensialisme, ada dua jenis Filsafat tradisional, yaitu filsafat spekulatif dan skeptis. Filsafat spekulatif menjelaskan tentang hal-hal yang fundamental tentang pengalaman, dengan berpangkal pada realitas yang lebih dalam yang secara inheren telah ada dalam diri induvidu. Filsafat skeptik berpandangan bahwa semua pengalaman manusia adalah palsu, tidak ada sesuatupun yang dapat kita kenal dari realitas. Mareka menganggap bahwa konsep metafisika adalah sementara.
Eksistensialisme menolak kedua pandangan diatas ia menolak pandangan spekulatif dengan mengemukakan pandangannya, bahwa manusia menemukan kebenaran yang fundamental,beragumentasi, bahwa yang nyata adalah kita alami. Realitas adalah kenyataan hidup itu sendiri. Untuk menggambarkan realitas, kita harus menggambarkan apa yang ada pada diri kita, bukan yang ada diluar dirikita atau kondisi manusia.[9]
Eksistensialisme merupakan filsafat yang memandang segala gejala berpangkal pada eksistensi. Eksistensi adalah cara manusia berada di dunia. Cara berada manusia berbeda dengan cara beradanya benda-benda materi. Keberadaan benda-benda materi berdasarkan ketidak sadaran akan dirinya sendiri, dan juga tidak terdapat komunikasi antara satu dengan yang lainya. Tidak demikian halnya dengan manusia lainnya sama sederajat. Benda-benda materi akan bermakna karena manusia.
Eksistensialisme berasal dari pemikiran Soren Kierkegaard, inti masalah yang menjadi pemikiran eksistensialisme adalah sekitar : apa kehidupan manusia ? apa pemecahan yang konkret terhadap persoalan makna “eksis” (berada) dari manusia.
Bagi eksistensialisme, benda-benda materi, alam fisik, dunia yang berada diluar manusia tidak akan bermakna atau tidak memiliki tujuan apa-apa kalau terpisah dari manusia. Jadi dunia ini bermakna karena manusia tapi sebaliknya dunia ini tidak akan bermakna kalau tidak ada manusia.
Paham eksistensialisme bukan hanya satu, melaikan terdiri dari berbagai pandangan yang berbeda-beda. Namun, pandangan-pandangan tersebut memiliki persamaan, sehinngga pandagan-pandangan mereka dapat digolongkan Filsafat eksistensialisme. Persamaan-persamaan tersebut antara lain :
a)      Motif pokok dari filsafat eksistensialisme ialah apa yang disebut “eksistensi” yaitu cara manusia berada. Hanya manusialah yang bereksistensi. Pusat perhatian ini pada manusia.oleh karena itu, bersifat humanistik.
b)      Bereksistensis harus diartiakan secara dinamis. Bereksistensi berate menciptakan dirinya secara aktif, berbuat, menjadi, dan merencanakan.
c)      Manusia dipandang sebagai makhluk terbuka, realitasyang belum selesai, yang masih dalam proses menjadi. Pada hakikatnya manusia terikat pada dunia sekitarnya, telebih lagi terhadap sesama manusia.
d)     Eksistensialisme memberikan tekanan pada pangalaman konkrit, dan pangalaman yang eksistensial.[10]
  1. Kebenaran sebagai pilihan
Manusia adalah pusat otoritas epistemologis dalam eksistensialisme – artinya manusia di sini  bukan manusia sebagai satu spesies, melainkan manusia sebagai individu yang kongkrit, meruang dan mewaktu. . Makna dan kebenaran tidak ditentukan dari dan untuk  alam semesta,  justru manusia itulah yang memberi makna terhadap sesuatu sebagaimana kodratnya. Manusia mempunyai hasrat untuk percaya kepada makna eksternal dan hasilnya ia menentukan sendiri untuk percaya kepada apa yang ingin dipercayainya.
Karena eksistensi mendahului esensi, maka pertama harus ada manusianya dahulu baru kemudian ada ide-ide yang diciptakannya. Semua tergantung pada manusia individual itu dan ia sendiri yang membuat putusan terakhir tentang apa itu kebenaran.Oleh karena itu, kebenaran dapat dilihat sebagai pilihan eksistensial yang tergantung pada  otoritas individu.[11]

  1. Pengetauan
            Teori pengetahuan eksistensialisme banyak dipengaruhi oleh filsafat fenomenologi, suatu pandangan yang menggambarkan penampakan benda-benda dan peristiwa-peristiwa sebagaimana benda-benda tersebut menempatkan dirinya terhadap kesadaran manusia. Pengetahuan manusia tergantung pada pemahamannya tentang realitas, tergantung pada interprestasi manusia terhadap realitas. Pengetahuan yang diberikan di sekolah bukan sebagai alat untuk memperoleh perkerjaan atau karir anak, melainkan untuk dapat dijadikan alat perkembangan dan alat pemenuhan diri. Pelajaran di sekolah akan dijadikan alat untuk merealisasikan diri, bukan merupak suatu disiplin yang kaku, di mana anak harus patuh dan tunduk terhadap isi pelajaran tersebut. [12]

  1. Nilai
            Pemahaman eksistensialisme terhadap nilai menekankan kebebasan dalam tindakan. Kebebasn bukan tujuan atau suatu cita-cita dalam dirinya sendiri, melainkan merupakan suatu potensi untuk suatu tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun menentukan pilhan-pilihan diantara pilihan-pilihan yang terbaik adalah yang paling sukar. Berbuat akan menghasilkan akibat, dimana sesorang harus menerima akibat-akibat tersebut sebagai pilihannya. Kebebasan tidak pernah selesai, karena setiap akibat akan melahirkan kebutuhan untuk pilihan berikutnya. Apabila seseorang mengambil tujuan kelompok atau masyarakat, maka ia harus menjadikan tujuan-tujuan tersebut sebagai miliknya, sebagai tujuannya sendiri, yang harus ia capai dalam setiap situasi. Jadi tujuan diperoleh dalam situasi.

  1. Pendidikan
            Eksistensialisme sebagai filsafat sangat menekankan induvidu dan pemenuhan diri sebagai pribadi. Setiap induvidu dipandang sebagai makhluk yang unik dan secara unik pula ia bertanggung jawab terhadap nasibnya. Dalam hubungannya dengan pendidikan, Sikun Pribadi mengemukakan bahwa eksistensialisme berhubungan erat sekali dengan pendidikan, karena keduanya bersinggungan satu dengan yang lainnya pada masalah-masalah yang sama yaitu, manusia, kehidupan, hubungan antar manusia, hakikat kepribadian, dan kebebasan. Pusat pembicaraan eksistensialisme adalah “keberadaan “ manusia, sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia.[13]
  1. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembagkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Setiap induvidu memiliki kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dengan pemenuhan dirinya, sehingga dalam menentukan kurikulum tidak ada kurikulum yang pasti dan ditentukan yang berlaku secara umum.
  1. Kurikulum
Kaum eksistensialisme menilai kurikulum berdasarkan pada apakah hal itu berkontribusi pada pencarian induvidu akan makna dan muncul dalam suatu tingkatan kepekaan personal yang disebut dengan “kebangkitan yang luas”. Kurikulum yang ideal adalah kurikulum yang memberikan para siswa kebebasan individual yang luas dan mensyaratkan mereka untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, melaksanakan pencarian-pencarian mereka sendiri, dan menarik kesimpulan-kesimpulan mereka sendiri.
          Menurut pandangan eksistensialisme, tidak ada satu mata pelajaran tertentu yang lebih penting dari pada yang lainnya. Mata pelajaran merupakan meteri dimana induvidu akan dapat menentukan dirinya dan kesadaran akan dunianya. Kurikulum eksistensialisme memberikan perhatian yang besar terhadap humaniora dan seni.karena kedua  tersebut diperlukan agar induvidu dapat mengadakan intropeksi dan mengenalkan gambaran dirinya. Siswa harus didorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dan serta memperoleh pengetahuan yang diharapkan.
          Siswa secara perorangan harus mengunakan pengalaman-pengalaman, lapangan mata pelajaran, dan keterampilan intelektual untuk mencapai pemenuhan diri, dan lebih menekankan pada berfikir reflektif. Jadi sekolah merupakan tempat untuk hidup dan memilih pengalaman-pengalaman. Kemudian eksistensialisme menolak apa yang disebut dengan penonton teori pengatahuan, oleh karena itu, sekolah harus mencawa siswanya kedalam hidup yang sebenarnya.
  1. Proses Belajar Mengajar
       Menurut Kneller, konsep belajar mengajar eksistensialisme dapat diaplikasikan dengan cara “Dialog”. Dialog merupakan percakapan antara pribadi dengan pribadi, dimana setiap pribadi merupakan subjek bagi yang lainnya, dan merupakan suatu percakapan antara “Aku” dan “Engkau”. Sedangkan lawan dari dialog adalah “paksaan”, dimana seseorang memaksakan kehendaknya kepada orang lain sebagai objek.
       Selanjudnya Buber mengemukakan bahwa, guru hendaknya tidak boleh disamakan dengan seorang instruktur. Jika guru disamakan dengan instruktur maka ia akan hanya akan merupakan perantara yang sederhana antara meteri pelajaran dengan siswa. Seandainya guru dianggap seorang instruktur, ia akan turun martabatnya, sehingga ia hanya dianggap sebagai alat mentransfer pengatahuan dan siswa akan menjadi hasil dari transfer tersebut. Pengetahuan akan menguasai manusia, sehingga manusia akan menjadi alat dan produk dari pengetahuan tersebut.
       Dalam proses belajar mengajar, pengetahuan tidak dilimpahkan, melainkan ditawarkan. Untuk menjadi hubungan antara guru dengan siswa sebagai suatu dialog, maka pengetahuan yang akan diberikan kepada siswa harus menjadi pengalaman pengalaman pribadi guru itu sendiri, sehingga guru akan berjumpa dengan siswa sebagai pertemuan antara pribadi dengan pribadi. Pengetahuan yang ditawarkan guru tidak merupakan sesuatu yang diberikan kepada siswa yang tidak dikuasainya, melainkan merupakan suatu aspek yang telah menjadi miliknya sendiri.
d.      Peran guru
       Menurut pemikiran eksistensialisme, kehidupan tidak bermakna apa-apa dalam alam semasta berlainan dengan situasi yang manusia temukan sendiri didalamnya. Kendatipun dengan demikian kebebasan yang kita miliki, masing-masing dari kita harus Commit sendiri pada penetuan makna bagi kehidupan kita.
       Urusan manusia yang paling berharga yang mungkin paling bermanfaat dalam mengangkat pencarian pribadi akan makna, merupakan poses edukatif. Sekalipun begitu, para guru harus memberikan kepada siswa untuk memilih dan memeberi mereka pengalaman-pengalaman yang akan membantu mereka menemukan makna dari kehidupan mereka. Pendekatan ini berlawana dengan keyakinan banyak orang, tidak berarti bahwa para siswa boleh melakukan apa saja yang mereka sukai. Logika menunjukkan bahwa kebebeasan memiliki aturan, dan rasa hormat akan kebebasan orang lain itu penting.
       Guru hendaknya member semangat kepada siswa untuk memikirkan dirinya dalam suatu dialog. Guru menanyakan ide-ide yang yang dimiliki siswa, dan mengajukan ide-ide lain, kemudian membimbing siswa untuk memilih alternative-alternatif, sehingga siswa akan melihat, bahwa kebenaran tidak terjadi pada manusia, melainkan dipilih manusia. Lebih dari itu, siswa harus menjadi faktor dalam suatu drama belajar, bukan sebagai penonton. Siswa harus belajar keras seperti gurunya.
       Guru harus mampu membimbing dan mengarahkan siswa dengan saksama sehingga siswa mampu berfikir relative dengan melalui pertanyaan-pertanyaan. Dalam arti guru tidak memberi instruksi, melaikan memberikan pengarahan. Guru hadir dalam kelas dengan wawasan yang sangat luas agar betul-betul menghasilkan diskusi tentang mata pelajaran. Diskusi merupakan metode utama dalam pandangan eksistensialisme. Sekolah merupakan suatu forum dimana para siswa mampu berdialog dengan teman-temannya dan guru membantu menjelaskan kemajuan siswa dalam pemenuhan dirinya.
       Power mengemukakan beberapa implikasi filsafat pendidikan eksistensialisme sebagai berikut[14]:
1.      Tujuan Pendidikan
       Member bekal pengalaman yang luas dan konperhensif dalam semua bentuk kehidupan.
2.      Status Siswa
       Makhluk rasional  dengan pilihan bebasdan tanggung jawab atas pilihanya. Suatu komitmen terhadap pemenuhan tujuan pribadi.
3.      Kurikulum
       Yang diutamakan adalah kurikulum kebebasan yang berlandaskan kepada kebebasan manusia, yakni kebebasan yang memiliki aturan-aturan. Oleh karena itu, disekolah diajarkan pendidiakan sosial, untuk mengajar “rasa hormat” ( respek) terhadap kebebasan semua, respek terhadap kebebasan yang lain adalah esensial.
4.      Peranan guru
       Melindungi dan memilihara kebebasan akedemik, dimana mungkin guru pada hari ini, besok lusa mungkin menjadi murid.
5.      Metode
       Tidak ada pemikiran yang mendalam tentang metode, tetapi metode apapun yang dipakai harus merujuk pada cara untuk mencapai kebahagiaan dan krakter yang baik.

BAB III
PENUTUP
  
          Secara umum eksistensialisme menekankan pada kreatifitas, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan konkret dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realita.

         Eksistensialisme lebih memperhatikan pemahaman makna dan tujuan hidup manusia ketimbang melakukan pemahaman terhadap kajian-kajian ilmiah dan metafisika tentang alam semesta. Kebebasan individu sebagai milik manusia adalah sesuatu yang paling utama karena individu memiliki sikap hidup, tujuan hidup dan cara hidup sendiri.
Jadi, filsafat pendidikan eksistensialisme yaitu filsafat yang memberikan kebebasan kepada setiap individu untuk mendapatkan pendidikan secara otentik yang artinya setiap manusia mempunyai tanggungjawab dan kesadaran diri untuk mereka sendiri.




DAFTAR PUSTAKA
A hanafi . filsafat barat : pustaka alhusna , Jakarta pusat , 19981, hlm .

Rukiyati Pemikiran Pendidikan Menurut Eksistensialisme, Yogyakarta,  Fondasia,2003, hlm.

Stephen Palmquis. Pohon filsafat, (yogyakarta:pustaka pelajar, 2007),

Aliran-aliaran filsafat pendidikan, Usiono, perdana publishing : Medan, 2011,

Hadiwijono, Harun. 1980. Sari Sejarah Filsafat II. Yogyakarta: Kanisius


http://monalisaypk.blogspot.com/2007/07/aliran-aliran-pendidikan.html


[1] A hanafi . filsafat barat : pustaka alhusna , Jakarta pusat , 19981, hlm . 87-88
[2] Rukiyati Pemikiran Pendidikan Menurut Eksistensialisme, Yogyakarta,  Fondasia,2003, hlm. 93


[3] Rukiyati Ibid, hlm, 98
[5] Hadiwijono, Harun. 1980. Sari Sejarah Filsafat II. Yogyakarta: Kanisius
[6] Ibid, hlm, 102
[7] http://monalisaypk.blogspot.com/2007/07/aliran-aliran-pendidikan.html

[8] Stephen Palmquis. Pohon filsafat, (yogyakarta:pustaka pelajar, 2007), h.212

[9] Aliran-aliaran filsafat pendidikan, Usiono, perdana publishing : Medan, 2011, hlm. 132

[10] http://monalisaypk.blogspot.com/2007/07/aliran-aliran-pendidikan.html
[11] http://monalisaypk.blogspot.com/2007/07/aliran-aliran-pendidikan.html
[12] Usiono Op.Cit, Hlm135
[13] Ibid,hlm, 137
[14] Ibid, hlm, 137

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar