Selasa, 06 Desember 2011

Pendidikan Islam Pada Masa Abbasiya


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang masalah
Dalam sejarahnya, pendidikan Islam telah mengalami pasang surut. Dari zaman Rasulullah saw. hingga tiga rezim sesudahnya (kekhalifahan Rasyidin, Daulah Umaiyyah, dan Abbasiyah) masing-masing dengan karakteristik perkembangannya yang beragam sesuai dinamika yang berkembang pada masa itu.Masa keemasan Islam atau sering disebut peradaban Islam dalam bidang pendidikan ditancapkan pada masa Daulah Abbasiyah. Sebuah rezim yang dalam sejarah Islam dinisbahkan dari mana silsilah keluarga Nabi Muhammad saw., al-Abbas (paman Nabi). Kemajuan yang pesat diperoleh dinasti Abbasiyah dalam berbagai bidang kehidupan pada masa itu –untuk sekedar membandingkan dengan peradaban Islam kini– secara jujur diakui, belum tertandingi. Bahkan pada masa itu, hampir tak ditemukan adanya sekularisasi ilmu atau pendikotomian ilmu Islam dengan ilmu umum, sebagaimana yang berlangsung hari ini di dunia Islam secara umum dan di Indonesia pada khususnya. Bahkan pada masa itu, tidak dikenal peristilahan ilmu agama dan ilmu umum, yang ada adalah terintegrasinya sifat-sifat ilmu sebagai sebuah ilmu yang berdiri sendiri dengan objek yang masing-masing berbeda.

Daulah Abbasiyah dengan segenap kelebihan dan kekurangannya khususnya yang berkaitan dengan perkembangan-perkembangan ilmiayah ilmu pengetahuan, dan dinamika serta karakteristik politik yang berlangsung kurun waktu lima abad perlu menjadi kajian utama dalam membincangkan proses perkembangan pendidikan dahulu hingga saat ini.
B. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan dari pembahasan ini ialah untuk memenuhi tugas yang dipercayakanoleh dosen pembimbing kepada kami, selanjudnya tujuanya pembahasan ini juga agar kita mengetahui tentang pendidikan pada masa bani Abbasiyah serta berupa kebijakan yang telah dilakukannya pada waktu memimpin.
C. Metode Penulisan
Makalah ini ditulis dalam tiga bab, Bab pertama berisi pendahuluan, kemudian Bab kedua berisi pembahasan yang dibahasa yakni Pendidikan Islam Pada Masa Bani Abbasiyah dan selanjudnya pada Bab ke tiga berisi kesimpulan sekaligus penutup dari pembahasan



BAB II
PEMBAHASAN

A.Pendidikan Islam Pada Masa Abbasiya

Perkembangan ilmu pengetahuan yang berlangsung pada zaman Abbasiyah hampir belum ditemukan kesamaannya dalam perkembangan peradaban dunia Islam sesudahnya. Peradaban yang ditemukan dan dihasilkan dalam kurun zaman itu belum maksimal menjadi rujukan berharga bagi peradaban umat Islam saat ini. Malah Islam sebagai ajaran pengetahuan tidak teraplikasi kecuali hanya pada aspek normatifnya belaka yang berupa ibadah. Spirit kekaryaan belum sepenuhnya membumi sebagaimana seharusnya. Akhirnya tampak beberapa ajaran yang menghendaki kedinamisan dan kekreatifitasan dalam mengelola alam tidak terbukti kecuali hanya ucapan –ucapan lisan yang tak berbekas.[1]
Pemerintahan Daulah Abbasiyah merupakan kelanjutan dari pemerintahan Daulah Bani Umayah yang telah runtuh di Damaskus, dinamakan kekhalifahan Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa daulah ini adalah keturuna Abbas paman Nabi Muhammad saw. Dinasti ini berkusa selama lebih kurang lima setengah abad, muli dari tahun 132-656 H/ 750-1258 M.dengan pusat pemerintahan dikota Bagdad.
Masa pemerintahan Daulah Abbasiyah merupakan masa kejayaan Islam dalam berbagai bidang, kususnya bidan ilmu pengetahuan. Pada zaman ini umat Islam telah banyak melakukan kajian kritis tentang ilmu pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan baik pengetahuan Aqli ( rasional ) maupun pengtahuan yang Naqli mengalami kemajuan dengan sangat  pesat.sehingga pada zaman itu merupakan zaman kebangkitan dan keemasan umat islam yang sangat gemilang.[2]
Sebagaimana di uraikan di atas puncak perkembangan pemikiran dan pengetahuan Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah,tidak berarti seluruhnya berawal dari kemauan dan kreativitas para penguasa pada saat itu, yakni penguasa pada bani Abbasiyah itu sendiri.
Pada zaman pemerintahan daulah daulah Abbasiyah, pendidikan islam sudah menjadi perhatian yang tinggi bagi pemimpin yakni dengan adanya lembaga pendidikan yang  sudah mulai berkembang dan proses pengalihan ilmu pengatahuan yang juga mulai berkembang.
lembaga pendidikan sudah mulai berkembang ketika itu, lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat:

1. Maktab atau Kuttab dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar bacaan, hitungan dan tulisan dan tempat para remaja belajar dasar –dasar ilmu seperti tafsir, hadis, fiqhi dan bahasa.

2. Tingkat pendalaman. Para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, meramu untuk memuntut ilmu kepada Seseorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. Pada umumnya, ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu ibadah atau agama. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. Bagi anak penguasa, pendidikan berlangsung di istana atau dirumah penguasa terasebut dengan memanggil ulama ahli kesana.
Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan bani Abbas, dengan bedirinya perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena disamping terdapat kitab-kitab, disana orang juga dapat membaca menulis dan berdiskusi.
.
            Lembaga pendidikan islam yang untuk pengajaran dan pendidikan adalah didirikannya Bait Al-Hikmah ( Rumah  Kebajikan ) yang didirikan oleh Al-Ma’mun pada tahun 830 M di kota Bagdad yang merupakan sebagai ibu kota Negara. Dengan adanya lembaga ini memberikan efek positif yakni tempat itu dijadikan sebagi pusat pembelajaran, dan penerjemahan buku karangan bangsa-bangsa terdahulu seperti buku-buku karya bangsa-bangsa Yunani, Romawi, dan Persia serta berbagi naskah yang ada di kawasan timur tengah dan Afrika, seperti Mesopotamia dan Mesir.[3]

B. Guru Pada Masa Bani Abbasiyah
Dalam pendidikan islam, khususnya pendidikan pada masa kahalifah Abbasiyah, guru mempunyai tugas dan tanggung jawab yang sangat berat sekali sekaligus mulia.Dikatakan berat karena mengemban kepercayaan (amanat) yang diberikan oleh masayarakat guna melaksanakan fungsi pendidikan. Pada masa Abbasiyah  klafikasi guru ada tiga yaitu.

1. Guru-guru yang mengajar sekolah kanak-kanak (Mu’alim al Kuttab)
Para mu’alim kuttab ini mengajar pendidikan pada sekolah yang tingkatan rendah, para guru ini masih memiliki kualitas kepandai yang masih rendah tapi ada juga sebahagian diantara mereka yang ahli dibidang Sastra, ahli Khat, dan Fuqoha.

2. Guru yang mengajar para putera mahkota ( Muaddib)
Berbeda dengan Mu’alim kuttab menpunyai status social yang tinggi, bahkan tidak sedikit para ulam yang mendapat kesempatan menjadi Muaddib. Hal ini disebabkan Karen untuk menjadi Mu’addibdiperlukan beberapa syarat, diantaranya adalah alaim, berakhlak mulia dan dikenal masyarakat. Namun demikian ada juga beberapa ulam yang menolak untuk menjadi Muaddib di istana raja,karena adanya alas an takut dengan kenikmatan dunia.

3. Guru-guru yang memberikan pengajaran di masjid-masjid dan sekolah
Guru-guru di golongan ini telah beruntng mendapat kehormatan dan pengargaan yang tinggi kerena disebabkan penguasaan mereka terhadap ilmu pengetahuan yang mendalam dan berbobot. Di antara mereka ada yang menjadi guru ilmu syariat, ilmu bahasa, ilmu pasti dan sebagainya[4]



C. Siswa Pada Masa Bani Abbasiyah
Siswa atau murid adalah anak yang sedang berguru yang memperoleh pendidikan dasar. Di awal perkembangan pendidikan islam., para penuntut ilmu tidak ada perbedaan. Umur murid yang belajar bervariasi. Perbedaan tersebut disebabakan tiadak adanya ketentuan tentang umur seorang murid. Para murid juga tidak semuanya harus membayar biaya  pembelajaran, Murid-murid yang cerdas akan dapat menyelesaikan pelajaran relatip lebih cepat, dan selanjutnya dapat melanjudkan pembelajaran yang lebih tinggi lagi. Dan biasanya kelulusan seorang murid adalah kemapuan mengahafal dan pemahaman terhadap Al-Qur’an.[5]


D. Kurikulum Pendidkan Islam Pada Masa Bani Abbasiyah
Sejak periode awal kebngkitan pendidikan islam pada masa abbasiyah, pendidikan islam memiliki potensi untuk mengembangkan kurikulum yang beraneka ragam, yakni mencakup  seluruh area pengetahuan yang dikenal. Pada masa Abbasiyah ini, pakar pendidkan islam menggunakan kata Al-Maddah untuk pengertian Kurikulum. Karena pada masa itu kurikulum lebih identik dengan serangkain mata pelajaran yang harus diberikan pada murid dalam tingkatan tertentu.
Pendidikan pada masa abbasiyah tidak ada kurikulum yang khusus yang dapat diikuti masyarakat ummat islam. Di lembaga kuttab biasanya diajarkan membaca dan menulis disamping mengajarkan Al-Qur’an. Kadang juga diajarkan ilmu bahasa yakni, nahu dan arudh.
Kurikulum pada tingkatanya berpariasi tergantung pada tingkat kebutuhan, karena sebuah kurikulum dibuat tidak akan pernah lepas dari factor sosiologis, politis dan ekonomis yang melingkupinya.
Namun demikian ada perbedaan kurikulum antara kuttab-kuttab yang di pergunakan bagi masyarakat umum dengan yang ada di istana. Di istana, orang tu (para pembesar istana ) adalah yang membuat perancanaan pelajaran tersebut sesuai dengan anaknya dan tujuanya yang dikehendakinya. Biasanya rencana pembelajaran untuk pendidikan istana berupa pidato, sejarah,takti perperanagn, cara bergaul dengan masyarakat disamping pengatahuan pokok,seperti Al-Qur’an syair dan bahasa.[6]

E. Sistem Pengajaran Pada Masa Bani Abbasiyah
Sistem pengajaran pada  Abbasiayah ini dapat kita simpulkan mengenai sisitem pendidikan nya yaitu ada empat :
a.       Terbagi kepada dua, yaitu sistem bersekolah dan sistem halaqah.
b. Murid-murid di peringkat sekolah rendah menggunakan alat tulis yang apa adanya yakni hanya terbuat dari kulit atau sebaginya
c. Bahan bacaan ialah Al-Quran, beberapa rangkap syair, dan bahan-bahan yang mudah serta kitab nahu dan sastera.
d. Peringkat menengah, peralatan pengajian lebih bagus yakni sudah adanya alat-alat tulis yang digunakan seperti kertas dan alat tulisnya[7]

F. Gerakan Penerjemah

Pada awal penerjemah, naskah yang diterjemahkan dalam bidang astrologi, kimia dan kedokteran.kemudian,naskah-naskah filsapat karya Aristoteles dan plato jugu diterjemahkan .Dalam masa keemasan, karya yang diterjemahkan kebanyakan tentang ilmu-ilmu pragmatis seperti kedokteran.Namun karya-karya puisi, drama cerpen dan sejarah jarang diterjemahkan karena bidang ini dianggap kurang bermanfaat dan dalam bahasa Arab sendiri.
Upaya besar-besaran untuk menerjemahkan manuskrip-manuskrip berbahasa asing terutama bahasa Yunani dan Persia ke dalam bahasa Arab mengalami masa keemasan pada masa Daulah Abbasiyah.
Pelopor gerakan penerjemah pada awal pemerintahan Daulah Abbasiyah adalah Khalifah Al-Mansur yang juga membangun ibukota Baghdad. Dia mempekerjakan orang- orang Persia yang baru masuk islam, seperti Nawbaht, Ibrahim al-fazari, dan Ali Ibn Isa untuk menerjemahkan karya-karya berbahasa Persia dalam bidang Astrologi ( ilmu perbintangan ) yang sangat berguna bagi kafilah dagang baik melalui darat maupun laut.[8]

G. Bidang Bidang Ilmu Pengetahuan Yang Berkembang

Banyak sekali bidang-bidang ilmu pengetahuan yang merkembang pada masa bani Abbasiyah ini antara lain :

Proses penerjemahan yang dilakukan umat Islam pada masa dinasti bani abbasiyah mengalami kemajuan cukup besar. Para penerjemah tidak hanya menerjemahkan ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa-bangsa Yunani, Romawi, Persia, Syiuria tetapi juga mencoba mentransfernya ke dalam bentuk pemikiran. Diantara tokoh yang member andil dalam perkembangan ilmu dan filsafat Islam adalah: Al-Kindi, Abu Nasr al-Faraby, Ibnu Sina, Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail, al-Ghazali dan Ibnu Rusyd.

b. Ilmu Kalam
Menurut A. Hasimy lahirnya ilmu kalam karena dua factor: pertama, untuk membela Islam dengan bersenjatakan filsafat. Kedua, karena semua masalah termasuk masalah agama telah berkisar dari pola rasa kepada pola akal dan ilmu. Diantara tokoh ilmu kalam yaitu: wasil bin Atha’, Baqilani, Asy’ary, Ghazali, Sajastani dan lain-lain.

c. Ilmu Kedokteran
Ilmu kedokteran merupakan salah satu ilmu yang mengalami perkembangan yang sangat pesat pada masa Bani Abbasiyah pada masa itu telan didirikan apotek pertama di dunia, dan juga telah didirikan sekolah farmasi. Tokoh-tokoh Islam yang terkenal dalam dunia kedokteran antara lain Al-Razi dan Ibnu Sina.




d. Ilmu Kimia
Ilmu kimia juga termasuk salah satu ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh kaum muslimin. Dalam bidang ini mereka memperkenalkan eksperimen obyektif. Hal ini merupakan suatu perbaikan yang tegas dari cara spekulasi yang ragu-ragu dari Yunani. Mereka melakukan pemeriksaan dari gejala-gejala dan mengumpulkan kenyataan-kenyataan untuk membuat hipotesa dan untuk mencari kesimpulan-kesimpulan yang benar-benar berdasarkan ilmu pengetahuan diantara tokoh kimia yaitu: Jabir bin Hayyan.

e. Ilmu Hisab
Diantara ilmu yang dikembangkan pada masa pemerintahan abbasiyah adalah ilmu hisab atau matematika. Ilmu ini berkembang karena kebutuhand asar pemerintahan untuk menentukan waktu yang tepat. Dalam setiap pembangunan semua sudut harus dihitung denga tepat, supaya tidak terdapat kesalahan dalam pembangunan gedung-gedung dan sebagainya. Tokohnya adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi.
Pada masa ini sejarah masih terfokus pada tokoh atau peristiwa tertentu, misalnya sejarah hidup nabi Muhammad. Ilmuwan dalam bidang ini adalah Muhammad bin Sa’ad, Muhammad bin Ishaq

g. Ilmu Bumi
Ahli ilmu bumi pertama adalah Hisyam al-Kalbi, yang terkenal pada abad ke-9 M, khususnya dalam studynya mengenai bidang kawasan arab.

h. Astronomi
Tokoh astronomi Islam pertama adalah Muhammad al-fazani dan dikenal sebagai pembuat astrolob atau alat yang pergunakan untuk mempelajari ilmu perbintangan pertama di kalangan muslim. Selain al-Fazani banyak ahli astronomi yang bermunculan diantaranya adalah muhammad bin Musa al-Khawarizmi al-Farghani al-Bathiani, al-biruni, Abdurrahman al-Sufi.[9]

Selain ilmu pengetahuan umum dinasti abbasiyah juga memperhatikan pengembangan ilmu pengetahuan keagamaan antara lain:

a. Ilmu Hadis
Diantara tokoh yang terkenal di bidang ini adalah imam bukhari, hasil karyanya yaitu kitab al-Jami’ al-Shahih al-Bukhari. Imam muslim hasil karyanya yaitukitab al-Jami’ al-shahih al-muslim, ibnu majjah, abu daud, at-tirmidzi dan al-nasa’i.

b. Ilmu Tafsir
Terdapat dua cara yang ditempuh oleh para mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Pertama, metode tafsir bil ma’tsur yaitu metode penafsiran oleh sekelompok mufassir dengan cara member penafsiran al-Qur’an dengan hadits dan penjelasan para sahabat. Kedua, metode tafsir bi al-ra’yi yaitu penafsiran al-Qur’an dengan menggunakan akal lebih banyak dari pada hadits. Diantara tokoh-tokoh mufassir adalah imam al-Thabary, al-sud’a muqatil bin Sulaiman.
c. Ilmu Fiqih
Dalam bidang fiqih para fuqaha’ yang ada pada masa bani abbasiyah mampu menyusun kitab-kitab fiqih terkenal hingga saat ini misalnya, imam Abu Hanifah menyusun kitab musnad al-Imam al-a’dzam atau fiqih al-akbar, imam malik menyusun kitab al-muwatha’, imam syafi’I menyusun kitab al-Umm dan fiqih al-akbar fi al tauhid, imam ibnu hambal menyusun kitab al musnad ahmad bin hambal.

d. Ilmu Tasawuf
Kecenderungan pemikiran yang bersifat filosofi menimbulkan gejolak pemikiran diantara umat islam, sehingga banyak diantara para pemikir muslim mencoba mencari bentuk gerakan lain seperti tasawuf. Tokoh sufi yang terkenal yaitu Imam al-Ghazali diantara karyanya dalam ilmu tasawuf adalah ihya ulum al-din.[10]

































KESIMPULAN
Dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam tidak dikenal adanya diskriminasi antara pendidikan agama dengan umum. Pendidikan terintegrasi menjadi satu kesatuan, sebagai sebuah khazanah ilmu yang keseluruhan cabang ilmu itu berpayungkan Islam sebagi ajaran universal.
Spirit kemajuan yang dicapai pada masa Abbasiyah perlu menjadi teladan sekaligus menjadi jawaban terhadap tantangan kemajuan ilmu dan teknologi yang tidak menghiraukan nilai-nilai etika dan moralitas.
Daulah Abbasiyah dan dengan segala kemajuannya telah melukiskan dalam sejarah bahwa Islam sebagai ajaran yang tidak semata-mata normatif, tetapi juga memuat pedoman dan inspirasi agar manusia menggali kekayaan alam untuk kemaslahatan kemanusiaan. Selayaknya generasi berguru dan berguru, belajar dan belajar, dan tentu berkarya dengan penuh kreativitas membongkar alam ciptaan Tuhan ini untuk ¹kebaikan bersama.

DAFTAR PUSTAKA


- Murodi,dkk, Sejarah Kebubayaan Islam, PT Karya Toha Putra, Semarang, 2003,

- Abudin Nata, Sejarah Pemdidikan Islam Pada Pperiode Klasik dan Pertengahan, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004,

- Joesoef Souyb, Sejarah Daulah Abbasiyah I, Mutiara offset, Jakarta, 1987, h.70

- Saiful Hadi, Seri Ilmuan Muslim Pengukir Sejarah, Ciptamedia Binanusa, Jakarta

- http://prodibpi.wordpress.com


[1] http://prodibpi.wordpress.com
[2] Murodi,dkk, Sejarah Kebubayaan Islam, PT Karya Toha Putra, Semarang, 2003, h.68
[3] Ibid, Murodi, h.69
[4] Abudin Nata, Sejarah Pemdidikan Islam Pada Pperiode Klasik dan Pertengahan, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, h.141
[5] Ibid, Abuddin, h. 129
[6] Ibid Abuddin, h.113
[7] http://blog.uin-malang.ac.id
[8] Joesoef Souyb, Sejarah Daulah Abbasiyah I, Mutiara offset, Jakarta, 1987, h.70
[9] Saiful Hadi, Seri Ilmuan Muslim Pengukir Sejarah, Ciptamedia Binanusa, Jakarta, h.85-160
[10] http://mbegedut.blogspot.com

1 komentar: