Selasa, 06 Desember 2011

Metode Pendidikan Islam


BAB I
METODE PENDIDIKAN ISLAM

  1. Pengertian Metode
Secara etimologi istilah metode berasal dari bahasa yunani yaitu “Methodos” kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu ; “metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Metode berarti jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. Dalam bahasa arab metode disebut “Thariqat” dalam kamus besar indonesia metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud. Sehingga dapat dipahami bahwa metode berarti suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan bhan pelajaran agar tercapai tujuan pembelajaran.[1]
Seiring dengan itu Muhammad Yunus menyatakan metede adalah jalan yang hendak ditempuh oleh seseorang supaya sampai kepada tujuan tertentu, baik dalam lingkungan perusahaan atu perniagaan, maupun dalam upasan ilmu pengetahuan dan lain-lain.[2]

Sedangkan menurut para ahli metode yaitu :
                  1.      wanarno Surakhmand, mendefenisikan bahwa metode adalah cara yang didalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan.
                  2.      Abu Ahmadi, mendefenisikan bahwa metode adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh seseorang guru atau instuktur.
                  3.      Omar Muhammad, mendefenisikan bahwa metode mengajar bermakna segala kemestiam mata pelajaran yang diajarkannya, ciri-ciri perkembangan muridnya, dan suasana alam sekitarnya dan tujuan menolomg murid-muridnya untuk mencapai proses pembelajaran yang diinginkan.[3]

Berdasrkan defenisi yang dikemukakan para ahli mengenai pengertian metode diatas, beberapa hal yang harus ada pada metode yaitu :
                  1.      Adanya tujuan yang hendak dicapai
                  2.      Adanya aktivitas uuntuk mencapai tujuan
                  3.      Aktivitas itu terjadi saat proses pembelajaran berlangsung
                  4.      Adanya perubahan tingkahlaku  setelah aktivitas ini dilakukan

Jika kata metode tersebut dikaitkan dengan pendidikan islam dapat membawa arti, metode sebagai jalan untuk   menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang anak didika sehingga terlihat didalam kepribadian, yakni berupa objek sasaran nya berupa kepribadian islam. Selain itu dapat pula membawa arti sebagai cara untuk memahami, menggali, mengembangkan agama islam, sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.[4]
Jelasnya, ada hubungan antara metode pendidikan islam yang mana telah dijelaskan bahwa metode adalah cara yang diajarkan oleh pendidik terhadap anak didiknya, sedangkan pendidikan islamnya mencakup didalamya unsur keagamaan yaitu agama islam yang tertumpu pada Al-Qur’an dan Hadits.
  1. Prinsip-Prinsip Metode Pendidikan Islam
Prinsip disebut juga dengan sebutan asas atau dasar. Asas adalah kebenaran yang menjadi pokok dasr berfikir bertindak dan sebagainya. Dalam hubungannya dengan metode pendidikan islam berarti Prinsip yang dimaksud disini adalah dasar pemikiran yang digunakan dalam mengaplikasikan metode pendidikan islam.

Prinsip-prinsip pelaksanaan metode pendidikan islam menurut Omar Muhammad Al-Toumy Al-Saibaniy adalh sebagai berikut :
1.      Mengetahui motivasi, kebutuhan, dan minat anak didiknya
2.      Mengetahui tujuan yang sudah ditetapkan sebelum pelaksanaan pendidikan
3.      Mengetahui tahapkematangan, perkembangan,  serta perubahan anak didik.
4.      Mengetahui perbedaan-perbedaan induvidu di dalam anak didik.
5.      Memperhatikan kepahaman dan mengetahui hubungan-hubungan integrasi pengalaman dan kelanjutan keaslian pembaharuan dan kebebasa berfikir.
6.      Menjadikan proses pendidikan sebagai pengalaman yang menggembirakan bagi anak didik.
7.      Menegakkan :Uswah Hasanah”.[5]

Sedangkan Muktar Yahya menyebutkan bagwa perinsip metode pendidikan islam ada empat yaitu :
1.      At Tawassu Fil Maqashid la fi’Alat
Prinsip yang menunjukkan untuk menuntut ilmu sebagi tujuan bukan sebagai alat.
2.      Mur’atul Isti’adad Wa Thabi’
Sebuah prinsib yang sangat memperhatikan pembawaan dan kecendrungan anak didik. Dengan memperhatikan prinsip ini, maka metode yang digunakan adalah metode yang dapat disesuaikan dengan pembawaan dan kecendrungan tersebit.
3.      At-Tadarruj Fi Talqin
Al-Gazali menyebutkan berilah pelajaran kepada anak didik sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. Aras dasar pemikiran tersebut bahwa anak didik memiliki tingjkatan-tingkatan kematangan dalam berfikir, maka setiap pendidik seyogyanya harus mempertimbangkan metode mana yang tepat diaplikasikan sesuai dengan tingkatan berfikir anaka didik.
4.      Min al-Mahasus Ila al-Ma’qul
Tidak dapat dibantah lagi bahwa setiap manusia lebih mudah memahami segala sesuatu yang dapat ditangkap oleh panca indra. Sementara hal-hal yang bersifat hiss atau rasional apalagi hal-hal yang bersifat irrasional, kemampuan akal sulit untuk menagkapnya. Oleh karena itu prinsip Berangsur-angsur ini merupakn prinsip yang sangat perlu diperhatikan untuk memilih dan mengaplikasikan sebuah metode sisalam proses belajar dan mengajar.


M. arifin menetapkan sembilan prinsip yang harus dipedomani dalam menggunakan metode pendidikan islam, kesembilan prinsip tersebut adalah :
Prinsip memberikan suasana kegembiraan, prinsip memberikan layanan dengan lemah lembut, prinsip kebermaknaan, prinsip prasyarat, prinsipkomunikasi terbuka, prinsip pemberian pengetahuan baru, prinsip memberikam model prilaku yang baik, prinsip pengamalan secara efektif dan prinsip kasih sayang.

Jadi prinsip-prinsip pemakaian metode pendidikan agama islam dapat dibagi kepada sebagai berikut :
a.       Pengamalan yang utuh terhadap perserta didik tentang ; umur, kepribadian dan tingkat kemampuan mereka.
b.      Bersetandar kepada tujuan oleh karena itu metode diaplikasikan untuk mencapai tujuan.
c.       Menegakkan “uswah hasanah” (contoh tauladan yang baik ) terhadap anak didik.


  1. Asas-Asas Metode Pendidikan Islam
Menurul Al-Syaibani asas-asas umum metode pendidikan islam meliputi :
    1. Asas Agama
Prinsip, asas-asas dan fakta yang diambil dari sumber asasi ajaran islam yakni Al-Qur’an dan Sunnah.
    1. Asas Biologis
Yaitu dasar yang mempertimbangkan kebutuhan jasmani dan tingkat perkembangan usia anak didik.
    1. Asas Pisikologis
Yaitu asas yang lahir diatas pertimbangan kekuatan pisikologis.
    1. Asas Sosial
Yaitu yang bersumber dari kehidupan sosial manusia seperti tradisi, kebutuhan-kebutuhan, harapan-harapan, dan tuntutan kehidupan yang senantiasa maju dan berkembang.[6]


  1. Metode Pendidikan Rasulullah
Muhammad adalah Nabi saw, dan Rasul Allah. Di beriakn kepadanya wahyu ( al-Qur’an) sebagai petunjuk dan npengajaran kepada seluruh umat islam untuk menghadap Allah Swt. Sehingga pendidikan dan pengajran menitik beratkan kepada nilai agama dan akhlak, serta menganjurkan manusia menggunakan akal pemikirannya memperhatikan mehklik hidup dan lingkungan.
Dalam menyiarkan agama islam Rasulullah menggunakan dua cara, yaitu pertama Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi yakni rasul hanya mengajak keluarganya. Kemudian kedua Rasulullah secara terang-terangan yakni, dengan berpidato di depan khalayak ramai sambil membacakan ayat-ayat al Qur’an yang berisi petunjuk, pribadatan kepada Allah swt. Media dakwahnya, Rasulullah memberikan pelajaran agama Islam di rumah-rumah dan dimasjid-masjid.[7]
1.      Mendidik dengan Contoh Teladan
Nabi Muhammad SAW. Merepresentasikan dan mengekspresikan apa yang ingin diajarkan melalui tindakannya, dan kemudian menerjemahkan tindakannya ke dalam kata-kata. Bagaimana memuja Allah SWT., bagaimana bersikap sederhana, bagaimana duduk dalam shalat dan do’a, bagaimana sujud dengan penuh perasaan, bagaimana tunduk, bagaimana nangis kepada Allah SWT. di tengah malam, bagaimana makan, bagaimana tertawa, bagaimana berjalan- semuanya itu dilakukan oleh Rasulullah SAW. Seluruh perilaku Rasulullah SAW. tersebut  kemudian menjadi acuan bagi para sahabat sekaligus merupakan materi pendidikan yang tidak langsung.
Mendidik dengan contoh (keteladanan) adalah salah satu strategi pembelajaran yang dianggap besar pengaruhnya, hal ini sudah dibuktikan oleh Nabi Muhammad SAW.  Sebagai hasilnya, apapun yang diajarkan dapat diterima dengan segera dari dalam keluarga dan oleh masyarakat pengikutnya, karena ucapannya menembus ke hati mereka.  Segala yang dicontohkan oleh Rasulullah dalam kehidupannya merupakan cerminan kandungan al-Qur’an secara utuh, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Ahzab: 21.
 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.

2.      Mendidik dengan Targhib dan Tarhib
Kata targhib berasal dari kata kerja ragghaba yang berarti; menyenangi, menyukai dan mencintai, kemudian kata itu diubah menjadi kata benda targhib yang mengandung makna “:suatu harapan untuk memperoleh kesenangan, kecintaan dan kebahagiaan. Semua itu dimunculkan dalam bentuk janji-janji berupa keindahan dan kebahagiaan yang dapat merangsang/mendorong seseorang sehingga timbul harapan dan semangat untuk memperolehnya. Secara psikologi, cara itu akan menimbulkan daya tarik yang kuat untuk menggapainya. Sedangkan istilah tarhib berasal dari kata rahhaba yang berarti; menakut nakuti atau mengancam. Lalu kata itu diubah menjadi kata benda tarhib yang berarti; ancaman hukuman.

Untuk kedua istilah itu, Al-Nahlawi mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan targhib adalah janji yang disertai dengan bujukan  yang membuat senang terhadap suatu yang maslahat, terhadap kenikmatan atau kesenangan  akhirat yang baik dan pasti serta suka kepada  kebersihan dari segala kotoran, yang kemudian diteruskan dengan melakukan amal saleh dan menjauhi kenikmatan selintas yang mengandung bahaya dan perbuatan buruk. Sementara tarhib ialah suatu ancaman atau siksaan sebagai akibat melakukan dosa atau kesalahan yang dilarang Allah SWT., atau akibat lengah dalam menjalankan kewajiban yang diperintahkan Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW. dalam rangka menyampaikan pendidikan kepada masyarakat terkadang dengan ungkapan yang bersifat  pemberian rangsangan (targhib) atau dengan ungkapan-ungkapan yang bersifat ancaman (tarhib), kedua sifat ungkapan ini dilakukan oleh Rasulullah SAW. semata-mata sebagai sebuah strategi, agar pesan-pesan pendidikan dapat sampai kepada obyek pendidikan.

 3.      Mendidik dengan Perumpamaan  (Amtsal)
Perumpamaan dilakukan oleh Rasulullah SAW. sebagai salah satu strategi pembelajaran untuk memberikan pemahaman kepada obyek sasaran materi pendidikan semudah mungkin, sehingga kandungan maksud dari suatu materi pelajaran dapat dicerna dengan baik, strategi ini dilakukan dengan cara menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, mendekatkan sesuatu yang abstrak dengan yang lebih konkrit.
Perumpamaan yang digunakan oleh Rasulullah SAW. sebagai salah satu strategi pembelajaran selalu syarat dengan makna sehinga benar-benar dapat membawa sesuatu yang abstrak kepada yang konkrit atau menjadikan sesuatu yang masih samar dalam makna  menjadi sesuatu yang sangat jelas.

4.      Mendidik dengan Nasihat
Nabi Muhammad SAW. sering sekali kedatangan masyarakat dari berbagai kalangan, mereka datang kepada Nabi Muhammad SAW.  khusus untuk meminta nasihat tentang berbagai hal,  siapa saja yang datang untuk meminta nasihat kepada Rasulullah SAW., beliau selalu memberikan nasihat sesuai dengan permintaan, selanjutnya nasihat tersebut dijadikan pegangan dan landasan dalam kehidupan mereka.

5.      Mendidik dengan cara memukul
Dalam hal tertentu, khususnya untuk membiasakan mengerjakan shalat bagi setiap muslim sejak dini, Rasulullah SAW. menganjurkan kepada setiap orang tua untuk menyuruh (dengan kata-kata) kepada setiap anaknya, ketika mereka berusia tujuh tahun  agar mau melaksanakan ibadah shalat, selanjutnya Rasulullah SAW. menganjurkan jika anak pada usia sepuluh tahun belum mau melaksanakan shalat maka pukullah ia.
Perintah memukul ini mengandung makna yang sangat dalam, mengingat Rasulullah SAW. sendiri dalam kontek pendidikan, tidak pernah memukul (dengan tangan) selama hidupnya. Perintah ini hanyalah menunjukan ketegasan Rasulullah SAW. untuk menanamkan kebiasaan positif  yang harus dimulai sejak anak-anak. Hadis riwayat Ahmad dan Abu Daud dari Amir ibn Syuaib dari ayahnya dari kakeknya berkata ;

 “Perintahkanlah anak-anakmu mengerjakan shalat di kala mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena mereka tidak mengerjakannya di kala mereka berumur 10 tahun dan pisahkanlah tempat tidurnya”

Memukul dalam hal ini tidak dilandasi oleh emosional dan kemarahan, tetapi sebaliknya memukul dalam konteks Hadis di atas harus dilandasi dengan kasih sayang, keikhlasan dan dengan tujuan semata-mata karena Allah SWT. Dalam peristiwa yang lain (bukan dalam hal shalat) Rasulullah SAW. bersabda; bahwa sebaiknya  pukulan itu dilakukan tidak berkali-kali, bahkan cukup satu kali saja. Hadis riwayat Bukhari dari Anas ibn Malik ra.
“ … Sesungguhnya kesabaran itu ketika pukulan pertama”





E. Metode di Dalam Pendidikan
Banyak buku-buku yang membahas berbagai macam metode di dalam berbagai pengajaran, banyak para pakar pendidikan yang memberikan pendapatnya tentang metode metode di dalam pendidikan. Jadi secara umum metode di dalam pendidikan itu yaitu :

a.      Metode caramah
Metode caramah adalah cara penyampaian informasi melalui penuturan secara lisan kepada peserta didik.
b. Metode Tanya Jawab
metode tanya jawab adalh suatu cara mengajar dimana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid, tentang bahan pelajaran yang telah diajarkan atau bacaan yang telah dibaca.
c.   Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara penyajian atau penyampaian bahan pelajaran, dimana pendidik memberikan kesempatan kepada perseta didik untuk membicarakn atau menganalisis secara ilmiyah guna mengumpulkan pendapat, untuk membuat suatu kesimpulan atau menyusun berbaga altenatif pemecahan suatu masalah. Abdurrahman Anahlawi menyebut metode ini dengan aebutan Hiwar( dialog)
d.  Metode Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas adalh suatu cara mengajar dimana seorng guru memberikan tugas-tugas tertentu kepada murid –murid, seangkan hasil tersebut diperiksa oleh guru , sedangkan murid mempertanggung jawabkannya.
e. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalh suatu cara mengajar dimana gueru pempertunjukkan tentang proses sesuatu pelajaran yang sedang dibahas.
f. Metode Eksperimen
suatu cara mengajr dengan menyuruh murid melakukan suatu percobaan dan setiap proses serta hasil percobaan itu diamati oleh murid,sedangkan guru memperhatikan yang dilakukan oleh murid sambil memberikan arahan.
g.  Metode Amsal atau Perumpamaan
Yaitu cara mengajr dimana guru menyampaikan meteri pelajran melalui contoh atau perumpamaan.
h. Metode Targhib dan Tarhib
Y aitu cara mengajar dimana guru memberikan materi pembelajarn dengan menggunakan ganjaran terhadap kebaikan, dan sedangkan hukuman terhadap keburukan. Agar peserta didik melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan
i.  Metode Pengulangan ( tikror)
Yaitu cara mengajar dimana guru memberikan materi yang diajarkan dengan cara mengulang-ngulang materi tersebut, dengan harapan siswa bisa mengingat lebih lama meteri yang disampaikan.[8]




BAB II
KESIMPULAN

Secara umum Metode berarti jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. Dan bisa dikatakan juga  metede adalah jalan yang hendak ditempuh oleh seseorang supaya sampai kepada tujuan tertentu, baik dalam lingkungan perusahaan atu perniagaan, maupun dalam upasan ilmu pengetahuan dan lain-lain.
Jika kata metode tersebut dikaitkan dengan pendidikan islam dapat membawa arti, metode sebagai jalan untuk   menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang anak didika sehingga terlihat didalam kepribadian, yakni berupa objek sasaran nya berupa kepribadian islam. Selain itu dapat pula membawa arti sebagai cara untuk memahami, menggali, mengembangkan agama islam, sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.
Metode pendidikan Rasulullah yaitu  mendidik dengan Contoh Tauladan, mendidik dengan Targhib dan Tarhib, mendidik dengan Perumpamaan (Amtsal), mendidik dengan Nasehat dan mendidik denga cara Memukul.

DAFTAR PUSTAKA

- Armai Arif, Pengantar Ilmu Pndidikan Islam, Ciputat Press, Jakarta,2002

- Muhammad Yunus, Ilmu Mengajar, Pustaka Muhammadiyah, Jakarta,1998

- Adi Surya, Metode Pendidikan Rasulullah, Suara Muhammadiyah, Malang,2008

- O. Hashem, Muhammad Sang Nabi, Tama, Jakarta,2007

- Zuhairini Dkk, Khusus Pendidiakan Agama, Usaha Nasional, Surabaya,1996


[1] Armai Arif, Pengantar Ilmu Pndidikan Islam, Ciputat Press, Jakarta, h.40
[2] Muhammad Yunus, Ilmu Mengajar, Pustaka Muhammadiyah, Jakarta, h.7
[3] Adi Surya, Metode Pendidikan Rasulullah, Suara Muhammadiyah, Malang, h.4
[4] Opcit Armai, h. 88
[5] Ibid, Armai, h.93
[6] Armai, h.68
[7] O. Hashem, Muhammad Sang Nabi, Tama, Jakarta, h.58
[8] Zuhairini, Metode Khusus Pendidiakan Agama, Usaha Nasional, Surabaya, h.83

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar